DARI PANGKUAN IBU, PENDIDIKAN ANAK DIMULAI

Oleh: Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A.

(Direktur Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah)

Peringatan Hari Ibu di Indonesia, yang berakar dari semangat emansipasi melalui Kongres Perempuan 1928, sejatinya tidak dapat direduksi menjadi seremoni tahunan yang diisi dengan bunga, hadiah, atau unggahan singkat di media sosial. Hari ini memuat pesan yang jauh lebih mendalam: sebuah ajakan bagi masyarakat untuk kembali mengokohkan penghargaan terhadap salah satu pilar utama pembentuk peradaban, yakni peran seorang ibu. Jauh sebelum lembaga pendidikan formal berdiri, sebelum kurikulum disusun dan buku pelajaran diperkenalkan, proses pendidikan telah dimulai dalam ruang paling hangat dan intim pangkuan seorang ibu. Dari dekapan pertamanya, seorang anak belajar mengenali dunia, memahami cinta, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, dan melihat realitas melalui pandangan sang ibu. Dari sinilah muncul istilah pendidikan pertama, sebuah metafora yang menegaskan betapa menentukan lingkungan emosional, spiritual, dan moral yang dibangun ibu dalam membentuk karakter manusia.

Kelembutan sentuhan ibu, responsnya yang penuh empati terhadap kebutuhan emosional anak, dan interaksi sehari-hari yang diulang dengan kesabaran tak bertepi, sebenarnya sedang membangun fondasi kepribadian yang akan terus terbawa hingga dewasa. Jika sekolah dapat diibaratkan sebagai sebuah bangunan besar yang berdiri di atas banyak pilar, maka hubungan awal anak dengan ibu adalah pondasi yang menentukan kokohnya bangunan tersebut. Tanpa fondasi kuat, keberhasilan akademis yang dibangun bertahun-tahun pun dapat runtuh saat anak menghadapi tekanan kehidupan. Karena itu, investasi terbesar suatu bangsa tidak terletak semata pada penyediaan gedung sekolah atau teknologi pendidikan, tetapi pada penguatan peran ibu sebagai pendidik utama pada fase-fase awal kehidupan. Ibu bukan sekadar figur domestik; ia adalah agen peradaban yang menanamkan nilai dasar seperti kasih sayang, rasa aman, kepercayaan diri, serta kemampuan memahami diri sendiri.

Kedudukan ibu bahkan lebih sentral menurut ulama besar seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, dan Al-Qabisi menekankan bahwa pendidikan yang paling efektif adalah yang dimulai sejak anak belum mengenal dunia luar. Ibu adalah sosok pertama yang mempertemukan fitrah manusia dengan nilai-nilai moral yang luhur. Fitrah, menurut Al-Ghazali, adalah kondisi suci yang dibawa sejak lahir ibarat sehelai kertas kosong yang siap menerima tulisan. Dan pena pertama yang menggoreskan tinta di atas kertas itu adalah ibu. Al-Qur’an sendiri menampilkan nilai pendidikan yang lembut dan bertahap melalui kisah nasihat Luqman sebuah pola pendidikan berbasis hikmah dan keteladanan yang paling sering hadir dalam interaksi seorang ibu dengan anak. Karena itu, peran ibu bukan hanya penting secara sosial, tetapi juga memiliki dimensi teologis: ia adalah penjaga fitrah, pengarah akhlak, dan guru pertama dalam perjalanan spiritual anak.

Peran strategis ini tampak semakin jelas ketika kita membandingkan pendidikan formal dengan pendidikan yang diberikan ibu di rumah. Sekolah menitikberatkan pengembangan akal melalui mata pelajaran akademik dan evaluasi kognitif, sementara ibu memegang peran dominan dalam membentuk kecerdasan emosional dan daya bangkit kembali (resiliensi). kecerdasan emosional adalah kemampuan memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara sehat, sekaligus membangun relasi positif dengan orang lain. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki pengaruh jauh lebih besar terhadap keberhasilan hidup dibandingkan kecerdasan berpikir. Kemampuan seseorang untuk mengatasi tekanan, menyelesaikan konflik, berkomunikasi dengan efektif, dan menunjukkan empati sangat bergantung pada pengalaman emosional awal yang mereka terima di rumah.

Pengalaman emosional itu tidak dapat digantikan oleh institusi mana pun. Anak tidak mempelajari regulasi emosi melalui ceramah, melainkan melalui pengamatan terhadap respons orang tua terutama seorang ibu. Ketika anak frustasi dan ibu menanggapinya dengan ketenangan, ia belajar bahwa emosi dapat dikelola. Ketika anak menangis dan ibu menghargai rasa sedihnya tanpa meremehkan, ia belajar bahwa perasaan harus diakui dan dapat diatasi. Ketika anak menghadapi kegagalan dan ibu berkata lembut, Ibu tahu ini sulit, tapi kamu bisa mencoba lagi, ia belajar bahwa kegagalan bukan akhir. Interaksi kecil yang berulang inilah yang menumbuhkan resiliensi keterampilan penting untuk menghadapi dunia yang penuh tantangan.

Konsep kecerdasan emosional ini telah lama hadir dalam bentuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan adab (etika mulia). Ibu adalah guru pertama bagi adab, yang oleh para ulama dianggap lebih tinggi nilainya dibandingkan ilmu. Rasulullah Muhammad adalah teladan utama dalam pengendalian emosi: penuh kelembutan, sabar, empatik, dan moderat. Ketika ibu menghibur anak dengan penuh kasih, ia sedang menanamkan kesabaran. Ketika ia memaafkan kesalahan kecil, ia menanamkan nilai rahmah. Ketika ia membiasakan anak untuk meminta maaf, ia menanamkan sikap tawadhu’. Maka pembentukan kecerdasan emosional dalam keluarga Muslim bukan hanya persoalan psikologi modern, tetapi juga proses internalisasi nilai-nilai keislaman yang membentuk akhlak mulia.

Kita hidup dalam era digital yang membuat batas antara ruang privat dan publik semakin kabur. Anak-anak tumbuh dengan paparan gawai, internet, dan media sosial sejak usia dini. Teknologi memang menyediakan peluang besar akses pengetahuan, kreativitas, dan keterampilan baru namun juga menghadirkan risiko serius: kecanduan layar, paparan konten yang tidak sesuai usia, hoaks, cyberbullying, hingga merosotnya keterampilan sosial akibat minimnya interaksi langsung. Karena itu, ibu kini memikul tugas baru sebagai digital gatekeeper, penjaga gerbang yang memastikan anak berinteraksi secara sehat dengan dunia digital.

Ibu harus mampu menilai mana konten yang mendidik dan mana yang merusak, bukan hanya membatasi waktu penggunaan gawai, tetapi juga menanamkan literasi digital: kemampuan memilah informasi, etika berkomunikasi secara daring, serta kemampuan menggunakan teknologi secara produktif. Pada masa lalu, tantangan terbesar adalah menjaga anak dari bahaya fisik di lingkungan sekitar; kini ibu juga harus menjaga anak dari ancaman tidak berwujud yang muncul melalui layar, mulai dari penipuan digital hingga tekanan sosial yang diciptakan budaya perbandingan di media sosial.

Pendidikan Islam memberikan panduan yang sangat relevan untuk menghadapi tantangan ini. Dalam konsep hifz al-amanah (menjaga amanah), anak adalah titipan Allah yang harus dijaga tubuh, akal, dan jiwanya. Mengarahkan anak agar bijaksana dalam menggunakan teknologi merupakan bagian dari menjaga akal dari informasi palsu, menjaga hati dari kerusakan moral, dan menjaga jiwa dari kecemasan akibat konsumsi digital yang berlebihan. Prinsip tabayyun dalam QS. Al-Hujurat:6 sangat relevan untuk mengajarkan anak memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayainya. Prinsip ghaddul bashar (menjaga pandangan) juga penting dalam membimbing anak agar menggunakan teknologi secara terarah dan bertanggung jawab. Dengan demikian, ibu hari ini adalah penjaga fitrah anak di dunia digital sebagaimana ibu di masa lalu menjaga anak dari bahaya fisik.

Banyak ibu menghadapi tekanan mental yang berat, mereka dituntut memainkan berbagai peran sekaligus pendidik, pengasuh, manajer rumah tangga, bahkan pekerja profesional. Islam memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap perjuangan ini. Hadis Rasul menjelaskan bahwa “surga berada di bawah telapak kaki ibu” menunjukkan betapa mulianya setiap jerih payah yang mungkin tak terlihat oleh mata manusia. Oleh karena itu, ketika negara dan masyarakat berbicara tentang pembangunan pendidikan, mereka tidak boleh mengabaikan pentingnya mendukung peran ibu. Pendidikan parenting, cuti melahirkan yang memadai, layanan kesehatan mental bagi ibu, serta kebijakan yang ramah keluarga adalah bentuk investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Share this Post