Merajut Kepemimpinan Hijau Melalui Pendidikan

Oleh: Dr. Fauzan Ahmad Siregar, M.Pd
(Ketua Prodi MPI Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)

Di tengah maraknya bencana alam, polusi, dan perubahan iklim, sering muncul persepsi bahwa pengambil kebijakan tampak kurang sigap merespons masalah ekologi, masalah ini tidak semata-mata terletak pada lemahnya regulasi, tetapi juga pada akar yang lebih dalam: sistem pendidikan kita belum secara serius dirancang untuk melahirkan pemimpin yang sadar ekologi.

Selama bertahun-tahun, keberhasilan pendidikan lebih sering diukur dengan capaian nilai akademik, jumlah lulusan, dan serapan kerja. Sementara itu, dimensi kesadaran lingkungan kerap diposisikan sebagai “muatan tambahan” atau kegiatan insidental, bukan sebagai inti dari proses pembentukan karakter dan kepemimpinan. Akibatnya, lahirlah generasi cerdas secara kognitif, tetapi gagap membaca tanda-tanda kerusakan ekologis di sekelilingnya.

Dari Literasi Ekonomi ke Literasi Ekologi

Kita hidup dalam kultur yang sangat menjunjung tinggi pertumbuhan ekonomi, namun sering abai terhadap daya dukung lingkungan. Pendidikan, secara tidak sadar, ikut mereproduksi paradigma ini. Siswa dan mahasiswa dituntun untuk menjadi “sumber daya manusia kompetitif” di pasar kerja, tetapi jarang diajak merenungkan: apa dampak keputusan ekonomi dan gaya hidup mereka terhadap bumi yang mereka tempati?

Sudah saatnya literasi ekologi ditempatkan sejajar dengan literasi baca-tulis-hitung, bahkan dengan literasi digital. Literasi ekologi bukan sekadar pengetahuan tentang daur ulang sampah atau pentingnya menanam pohon, tetapi cara pandang komprehensif tentang hubungan manusia, alam, dan tanggung jawab moral di antara keduanya. Seorang calon pemimpin yang memiliki literasi ekologi akan mempertimbangkan jejak karbon, keberlanjutan sumber daya, dan keadilan antargenerasi dalam setiap kebijakan yang diambil.

Ruang Kelas sebagai Laboratorium Etika Lingkungan

Jika kita ingin melahirkan pemimpin yang sadar ekologi, ruang kelas harus berubah menjadi laboratorium etika lingkungan. Ini bukan berarti semua mata pelajaran diubah menjadi pelajaran lingkungan hidup, melainkan setiap mata pelajaran diberi ruh ekologis. Sebagai contoh praktiknya: 

  • Guru matematika dapat mengajak siswa mengolah data banjir, kualitas udara, atau sampah plastik sebagai bahan latihan.
  • Guru IPS dan sejarah dapat mengulas bagaimana peradaban runtuh akibat eksploitasi alam yang berlebihan.
  • Guru agama dapat menegaskan kembali ajaran-ajaran suci tentang amanah, larangan berbuat kerusakan di muka bumi, dan konsep khalifah yang bertanggung jawab atas kelestarian alam.
  • Guru sains dapat menghubungkan teori dengan praktik, misalnya melalui audit energi sekolah, pengelolaan air, dan pemantauan keanekaragaman hayati di lingkungan sekitar.

Dengan cara ini, kepedulian ekologis tidak lahir dari ceramah sesaat, tetapi tumbuh dari pengalaman belajar yang konsisten, integratif, dan kontekstual.

Teladan: Kurikulum Saja Tidak Cukup

Namun, kurikulum yang baik tidak otomatis melahirkan pemimpin yang baik, jika tidak didukung oleh teladan nyata. Anak didik mengamati perilaku lebih tajam daripada mendengar kata-kata. Ketika sekolah mengkampanyekan cinta lingkungan, tetapi kantin masih banjir plastik sekali pakai, AC menyala di ruangan yang jendela dan pintunya terbuka, atau halaman sekolah yang tandus tanpa pepohonan, pesan ekologis berubah menjadi slogan kosong.

Pimpinan lembaga pendidikan, guru, dan tenaga kependidikan harus menjadi model pemimpin hijau pada level mikro. Kebijakan sekolah bisa dimulai dari langkah sederhana namun konsisten: kebijakan bebas plastik, pengolahan sampah organik, penghijauan, penghematan listrik, serta pelibatan siswa dalam perencanaan dan evaluasi program lingkungan sekolah. Dari situ, siswa belajar bahwa kepemimpinan ekologis bukan sekadar wacana, tetapi praktik keseharian.

Ekologi sebagai Dimensi Kepemimpinan Masa Depan

Dunia kerja dan ruang publik hari ini menuntut profil pemimpin yang berbeda. Pemimpin masa depan bukan hanya piawai mengelola anggaran dan menyusun rencana strategis, tetapi juga peka terhadap krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan ancaman bencana ekologis yang memengaruhi kehidupan jutaan orang.

Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran strategis: menggeser paradigma kepemimpinan dari “pertumbuhan tanpa batas” ke “pertumbuhan yang bertanggung jawab”. Calon pemimpin yang ditempa oleh sistem pendidikan yang sadar ekologi akan memandang keberlanjutan lingkungan bukan sebagai hambatan pembangunan, melainkan sebagai syarat utama keberlanjutan peradaban.

Kita perlu menanamkan dalam diri peserta didik bahwa setiap keputusan dari gaya konsumsi hingga pilihan profesi memiliki konsekuensi ekologis. Kesadaran seperti ini akan membentuk karakter pemimpin yang berani mengambil kebijakan tidak populer demi menjaga keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Saatnya Merumuskan Ulang Misi Pendidikan

Jika selama ini misi pendidikan dirumuskan sebatas “mencerdaskan kehidupan bangsa”, maka di era krisis lingkungan global, misi itu perlu diperluas: mencerdaskan bangsa sekaligus menyelamatkan bumi tempat bangsa itu hidup. Tanpa keberlanjutan ekologis, kecerdasan setinggi apa pun kehilangan pijakan. Pendidikan yang tidak menyiapkan pemimpin sadar ekologi sejatinya sedang mempersiapkan krisis baru di masa depan. Sebaliknya, pendidikan yang berani menempatkan ekologi di jantung proses pembelajaran, sedang menanam benih pemimpin yang akan menjaga keberlanjutan kehidupan di bumi.

Pertanyaannya, apakah kita siap melakukan pergeseran ini sekarang, sebelum terlambat?

Share this Post