Orang Aceh itu Dermawan

Oleh: Adnan
 
Individualistik sering memunculkan sifat kikir, pelit, dan bakhil. Bahkan, cenderung hilang kepekaan dan kepedulian dalam kehidupan sosial (social of sense). Hidupnya hanya seputar mengumpulkan harta, lalu menghitungnya. Tipologi ini dicuplik dalam al-Quran surah al-Humazah ayat 2.
Ironisnya lagi, kadang pelit tingkat akut. Jangankan untuk memberi kepada orang lain, untuk diri sendiri kadang enggan ia gunakan. Ia mengira harta itu dapat mengekalkannya. Ini cuplikan lanjutan dalam al-Quran surah yang sama di atas pada ayat 3.
Idealnya, setiap orang punya sifat dermawan. Sifat ini bukan sekadar menyenangkan penduduk bumi, tapi juga penduduk langit. Dalam al-Quran banyak ditemukan ayat-ayat yang berisi perintah berzakat, dan anjuran bersedekah dan berinfak. Spirit ini mengajarkan setiap mukmin agar mau menderma sebagian harta di jalan Allah Swt.
Penciri orang taqwa (muttaqin) dengan orang munafik (hipokrit) dalam al-Quran adalah spirit kedermawanan (filantropi). Pesan ini disinyalir dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 3 dan surah Ali Imran ayat 134. Ini bertujuan agar harta (ekonomi) tidak hanya berputar (sirkulasi) pada orang kaya saja. Ini dicuplik dalam al-Quran surah al-Hasyr ayat 7 yang berkaitan pembagian harta rampasan.
Dalam al-Quran surah al-Ma'un, Allah Swt mengindikasikan para pendusta agama. Yaitu, mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Profetik pun mengaitkan iman seseorang dengan kepedulian kepada sesama, tamu (dhaifahu), dan tetangga (jarahu). Artinya, semakin tinggi kepedulian sosial seseorang, berarti semakin kuat imannya. Sebaliknya.
Sebab, kadang ada individu yang menjadikan harta sebagai prestise semata. Berita ini dicuplik dalam al-Quran surah At-Takatsur ayat 1 sampai 3. Harta hanya sekadar kemegahan, kewibawaan, dan kehormatan, tanpa dibarengi keinginan untuk berbagi. Qarun, menjadi tokoh yang mirip dengan tipologi ini.
Maka, sekarang adalah masa-masa kepekaan kita dituntun dan kepedulian kita dipertaruhkan, di tengah saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan bantuan disebabkan bencana tanpa mereka harapkan. Bencana itu datang sebagai ujian bagi mereka, dan juga sekaligus ujian keimanan bagi kita untuk mengikis sifat keserakahan.
************
Orang Acèh dikenal sebagai pribadi dermawan. Falsafah hidupnya: "lam hudép ta meusaré, lam meuglé ta meubila, lam meublang ta meutulong, lam gampông ta meusyèdara". Falsafah ini mengajarkan bahwa, orang Acèh memiliki ikatan persaudaraan yang kuat untuk saling membantu dan menguatkan antarsesama.
Secara historis telah dibuktikan oleh orang-orang Acèh di masa lalu. Mereka mengumpulkan segenggam beras, harta benda, dan sejumlah perhiasan untuk membeli pesawat terbang, seulawah agam dan seulawah dara, sebagai cikal bakal pesawat Garuda, penopang kemerdekaan saat itu. Pun, Teuku Markam, pengusaha asal Alue Capli, Pantön Labu, sebagai penyumbang emas 28 Kg di atas Tugu Monas Jakarta. Pun, para pengungsi Rohingya mendapatkan tempat di hati orang Acèh, di tengah penolakan lintas negara.
Kini, saatnya orang Acèh hadir untuk membantu aneuk bansa yang sedang menimpa musibah longsor dan banjir bandang. Mereka berada di barak-barak pengungsian untuk kembali menghidupkan harapan. Jangan buat mereka sendirian berjuang, tapi hadirlah untuk meringankan beban, dan menumbuhkan harapan kehidupan yang lebih baik di masa depan.
 
Sekretaris Prodi S3 Studi Islam UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Email: adnanyahya@uinsuna.ac.id 

Share this Post