SEDEKAH DI TENGAH BENCANA: WUJUD KEIMANAN, AKHLAK MULIA, DAN UPAYA MEMBERANTAS KEKIKIRAN
Oleh: Aulia Rahmat, M.Ag.
(Sekretasi Program Studi Pendidikan Agama Islam Pasca Sarjana UIN Sultanah Nahrasiyah)
… dan siapa saja yang terjaga dari sifat kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati dalam pandangan Islam tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan dari kemampuan seseorang menjaga diri dari sifat kikir. Kekikiran bukan sekadar enggan memberi, tetapi juga cerminan hati yang terlalu melekat pada dunia dan kurang peka terhadap penderitaan sesama. Dalam konteks kehidupan saat ini, pesan ayat tersebut menjadi sangat relevan ketika kita dihadapkan pada berbagai bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah.
Bencana alam sering datang tanpa diduga, merenggut harta, tempat tinggal, bahkan nyawa. Pada saat-saat seperti ini, para korban sangat membutuhkan uluran tangan, baik berupa materi, tenaga, maupun doa. Sedekah kepada korban banjir dan tanah longsor bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga perwujudan nyata dari keimanan. Dengan bersedekah, seorang muslim membuktikan bahwa hartanya bukan sekadar untuk dinikmati sendiri, melainkan amanah dari Allah yang di dalamnya terdapat hak orang lain.
Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta. (Q.S. Az-Zariyat: 19).
Keutamaan sedekah dalam Islam sangat besar. Sedekah dapat meringankan beban penderitaan korban, membantu mereka bangkit kembali, dan menumbuhkan harapan di tengah kesulitan. Lebih dari itu, sedekah juga menjadi sebab datangnya pertolongan Allah, melapangkan rezeki, serta menolak bala. Dalam situasi bencana, sedekah menjadi jembatan kasih sayang yang menghubungkan mereka yang diberi kelapangan dengan mereka yang sedang diuji kesempitan.
Selain manfaat sosial dan spiritual, sedekah memiliki peran penting dalam memperbaiki akhlak seorang muslim. Kebiasaan memberi melatih keikhlasan, menumbuhkan empati, dan melembutkan hati. Sifat kikir yang berakar pada cinta dunia perlahan terkikis, digantikan oleh sikap dermawan dan peduli. Seorang muslim yang gemar bersedekah akan lebih rendah hati, tidak egois, dan lebih mudah bersyukur atas nikmat yang dimilikinya.
Dengan demikian, ayat Al-Hasyr: 9 mengingatkan kita bahwa keberuntungan hakiki terletak pada hati yang bebas dari kekikiran. Di tengah bencana alam yang melanda, sedekah menjadi ladang amal sekaligus sarana pembinaan akhlak. Melalui sedekah kepada korban banjir dan tanah longsor, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga sedang menumbuhkan jiwa yang bersih, peduli, dan diridhai oleh Allah SWT.