DI TENGAH KEMAJUAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI), MASIHKAH PERAN GURU DIBUTUHKAN?

Oleh: Sarah Sapnaranda (Penulis merupakan Mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nayrasiyah Lhokseumawe)

Tidak dapat dipungkiri, era global yang semakin meningkat pesat ini telah membawa kita pada perkembangan teknologi Artificial Intelligence atau biasa disebut dengan AI. Perkembangan AI telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Kehadirannya bukan sekedar trend teknologi, melainkan sebuah transformasi yang berpotensi mengubah cara belajar, mengajar, hingga mengelola sistem pendidikan. 

Salah satu kemampuan utama AI dalam pendidikan adalah kemampuannya untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih personal. Dengan bantuan algoritma cerdas, AI mampu menganalisis kebutuhan, kecepatan, dan gaya belajar setiap peserta didik. Hal ini memungkinkan terciptanya sistem pembelajaran yang adaptif, di mana materi dapat disesuaikan secara otomatis sesuai dengan kemampuan individu. Jika dulu, untuk mendapatkan informasi atau mencari ilmu siswa harus ke perpustakaan, membaca buku, koran, atau majalah. Sekarang hanya dengan menuliskan satu perintah menggunakan AI maka dalam hitungan detik siswa dapat mengakses dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan secara instan. Dalam konteks ini, AI menawarkan peluang besar, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan yang tidak bisa diabaikan.

Selain itu, kehadiran AI membuka akses pendidikan yang lebih luas dan inklusif. Teknologi ini memungkinkan pembelajaran jarak jauh menjadi lebih interaktif melalui chatbot, tutor virtual, dan sistem rekomendasi belajar. Bagi daerah yang memiliki keterbatasan tenaga pengajar, AI dapat menjadi solusi alternatif untuk menjembatani kesenjangan pendidikan. Dengan demikian, AI berpotensi menjadi alat untuk mewujudkan pemerataan pendidikan yang selama ini menjadi tantangan klasik. Perkembangan AI ini tentu menarik perhatian bagi siswa atau guru karena sangat memudahkan seluruh kegiatan pendidikan. 

Namun, di balik peluang tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang perlu disikapi secara kritis. Salah satunya adalah potensi dehumanisasi dalam proses pendidikan. Menurut pandangan saya, jika ditinjau dari ketergantungan berlebihan pada teknologi dapat mengurangi interaksi langsung antara guru dan peserta didik, padahal hubungan yang dibangun antara keduanya memiliki nilai penting dalam pembentukan karakter, etika, dan empati. Pendidikan tidak semata-mata soal transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan manusia secara utuh.

Teknologi AI dapat membantu mencerdaskan pengetahuan kognitif siswa, namun perlu diperhatikan bahwa yang dibutuhkan peserta didik tidak hanya mendapatkan ilmu intelektualnya saja. Ada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang harus ditanamkan kepada peserta didik dan hal itu tidak serta merta diperoleh dengan menggunakan AI namun ada peran orang lain di dalamnya yaitu seorang guru. Sejak dahulu, guru sangat berkontribusi dalam mengembangkan kecerdasan EQ dan SQ peserta didik. 

 

AI dan kecerdasan IQ

Dari sisi IQ (Intelligence Quotient), AI mampu mengolah data dalam jumlah besar, mengenali pola, melakukan analisis logis, bahkan memecahkan masalah kompleks dengan kecepatan tinggi. Dalam banyak kasus, kemampuan ini bisa melampaui manusia, terutama dalam hal perhitungan, prediksi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Jadi, AI bisa dikatakan merepresentasikan aspek IQ secara sangat dominan.

AI dan kecerdasan EQ

Pada level ini, AI dapat “memahami” emosi melalui analisis bahasa, ekspresi, atau pola perilaku, lalu merespons seolah-olah empatik. Tetapi AI tidak benar-benar merasakan emosi. Empati yang ditampilkan adalah hasil pemrograman dan pelatihan data, bukan pengalaman batin. Di sinilah manusia masih unggul, karena EQ melibatkan kesadaran diri, kepekaan sosial, dan pengalaman emosional yang autentik. Kehadiran dan peran guru dalam suasana belajar, kerjasama dalam tim, menyelesaikan tanggung jawab dan permasalahan adalah penanaman dalam mengendalikan emotional quotient (EQ).

AI dan kecerdasan SQ

Lebih jauh lagi pada SQ (Spiritual Quotient), AI memiliki keterbatasan paling konkrit. SQ berkaitan dengan makna hidup, nilai moral, kesadaran spiritual, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. AI tidak memiliki kesadaran, keyakinan, atau pengalaman spiritual. Ia hanya bisa mereproduksi konsep-konsep tersebut berdasarkan data yang dipelajari, tanpa benar-benar “memahami” makna eksistensialnya. 

Dalam tulisannya, Musbar mengatakan, penting sekali untuk memastikan bahwa penggunaan AI dalam bidang pendidikan tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, memperhatikan privasi data, serta tidak sepenuhnya menggantikan interaksi manusia yang esensial dalam proses pembelajaran. Disinilah peran guru tidak akan bisa sepenuhnya digantikan oleh AI. Kehadiran dan interaksi dua arah secara langsung antara guru dan peserta didik akan melahirkan generasi yang memiliki nilai sosial dan spiritual.

Sejatinya, perkembangan AI tidak akan bisa ditolak karena kemampuannya sangat membantu seluruh aspek pendidikan. Baik guru dan peserta didik sama-sama mampu memanfaatkan AI dalam proses belajar sebagai alat bantu untuk meningkatkan efiensi waktu dan tempat. Peran guru yang dulunya sebagai sumber utama ilmu pengetahuan dan otoritas tertinggi di kelas sekarang berubah menjadi fasilitator dan motivator. Guru juga menjadi pembimbing etika dan karakter bagi peserta didik dalam mengajarkan etika penggunaan AI, menanamkan nilai-nilai moral, dan membangun karakter yang tidak dimiliki oleh mesin. Guru juga tetap berperan aktif agar peserta didik tetap memiliki nilai kritis karena AI sering memberikan jawaban instan, namun guru melatih peserta didik untuk bertanya lebih dalam, memverifikasi data, dan menganalisis kebenaran informasi.

Peran unggul guru lainnya mampu menciptakan koneksi emosional, membangun kepercayaan diri peserta didik, dan memberikan dukungan emosional yang tidak bisa didapatkan dari AI. Jika AI dapat digunakan untuk menilai tugas, membuat rencana pembelajaran, dan menyusun materi, maka peran guru yaitu melengkapi dengan mengarahkan pembelajaran pada pemecahan masalah nyata yang membutuhkan kreativitas, kolaborasi, dan rasa (empati) manusia.

Dengan demikian, pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan harus diiringi dengan kebijakan yang bijak dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Integrasi teknologi ini perlu dilakukan secara seimbang, dengan tetap menjaga esensi pendidikan sebagai proses pembentukan karakter dan peradaban.

Share this Post