PENDIDIKAN ISLAM DAN IDENTITAS GEN Z: MEMBINGKAI ULANG SPIRITUALITAS DI TENGAH PUSARAN DIGITAL DAN KERAGAMAN GLOBAL
Oleh: Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A.
(Direktur Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah)
Di tengah dominasi gawai, derasnya arus informasi digital, serta perjumpaan intens dengan nilai-nilai global, generasi Muslim Milenial dan Gen Z tumbuh dalam lanskap sosial-budaya yang sama sekali berbeda dari generasi sebelumnya. Pembentukan identitas keislaman mereka tidak lagi berlangsung secara tunggal dan linier melalui institusi tradisional seperti keluarga, masjid, atau pesantren, melainkan melalui interaksi yang rumit dengan media digital, budaya populer global, diskursus kesetaraan gender, isu keadilan sosial, serta realitas masyarakat yang semakin plural. Dalam situasi inilah, pendidikan Islam berada pada persimpangan sejarah: menghadapi tantangan besar sekaligus peluang transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Model pendidikan Islam konvensional yang kerap menitikberatkan hafalan, doktrinasi, serta dikotomi kaku antara Islam dan Barat kian terasa tidak relevan untuk menjawab kegelisahan eksistensial generasi muda Muslim yang hidup di dunia serba terhubung dan penuh kontradiksi. Karena itu, rekonstruksi menyeluruh terhadap paradigma, kurikulum, metode pembelajaran, dan ekosistem pendidikan Islam menjadi keniscayaan agar mampu membimbing terbentuknya identitas Muslim Milenial dan Gen Z yang otentik, tangguh, dan berdaya guna.
Identitas keislaman generasi muda saat ini bersifat cair dan berlapis. Sebagai digital natives, mereka mengakses ceramah ulama lokal dan internasional, tafsir Al-Qur’an kontemporer, hingga wacana filsafat, sains populer, dan aktivisme global dalam satu ruang digital yang sama. Dunia maya berfungsi sekaligus sebagai masjid virtual dan ruang publik tempat mereka bertanya, membandingkan, serta merumuskan pemahaman keagamaan secara mandiri. Dari sinilah lahir apa yang kerap disebut sebagai spiritualitas pencarian (seekership spirituality), yakni bentuk keberagamaan yang tidak lagi diterima begitu saja, melainkan dibangun melalui proses eksplorasi personal yang aktif dan kritis. Di satu sisi, mereka merindukan kedalaman spiritual dan autentisitas iman, sebagaimana tampak dalam fenomena hijrah dan kebangkitan minat terhadap tasawuf serta mindfulness Islami. Di sisi lain, mereka sangat sensitif terhadap isu keadilan sosial, kesetaraan, lingkungan, dan hak asasi manusia, yang mereka upayakan untuk dipahami dalam kerangka nilai-nilai Islam. Mereka menolak dikotomi sederhana: seorang Muslimah Gen Z dapat sekaligus menegaskan identitas keagamaannya, mengkritisi tafsir patriarkal, dan terlibat dalam advokasi lingkungan sebagai ekspresi integral dari imannya. Inilah identitas hibrid yang khas berakar pada tradisi, terbuka pada nilai universal berskala global, namun tetap berjejak lokal.
Ironisnya, banyak lembaga pendidikan Islam, baik formal maupun nonformal, masih beroperasi dalam paradigma yang kurang sejalan dengan realitas kompleks tersebut. Kurikulum kerap disusun secara hierarkis dan satu arah, memosisikan peserta didik sebagai penerima pasif kebenaran yang telah final. Penekanan berlebihan pada aspek ritual tanpa konteks sosial-historis, atau pengajaran teks klasik tanpa dialog kritis dengan problem kekinian, justru berpotensi menjauhkan ilmu agama dari kehidupan nyata generasi muda. Konsekuensinya adalah lahirnya dikotomi problematik antara ilmu agama yang dianggap sakral-ritual dan ilmu umum yang dipersepsikan sekuler duniawi. Pola pembelajaran yang monologis dan otoriter pun semakin tidak efektif di era yang menuntut partisipasi dan dialog, bahkan berisiko melahirkan sikap keberagamaan yang kaku dan intoleran akibat minimnya ruang bertanya dan berpikir reflektif.
Pendidikan Islam kerap belum mampu membekali generasi muda dengan perangkat intelektual untuk menghadapi tantangan pemikiran kontemporer. Isu-isu krusial seperti relasi agama dan sains, gender dan seksualitas, pluralisme, etika digital, hingga ketimpangan global sering kali dihindari atau dijawab secara simplistik. Ketika pendidikan Islam tidak hadir dalam menjawab persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi generasi muda, ruang kosong tersebut akan diisi oleh beragam narasi di dunia maya mulai dari yang moderat hingga ekstrem. Dalam kondisi kebingungan identitas, tawaran jawaban instan yang hitam-putih kerap tampak menggoda dan berbahaya.
Reorientasi pendidikan Islam menjadi sebuah keharusan historis. Pertama, perlu pergeseran paradigma dari sekadar transfer doktrin menuju pembentukan karakter dan pengembangan nalar kritis. Tujuan pendidikan Islam bukan hanya mencetak individu yang taat secara ritual, tetapi juga berakhlak mulia dan memiliki kapasitas berpikir reflektif untuk menghadapi kompleksitas zaman. Iman dan rasio harus dipertemukan dalam dialog yang produktif. Kedua, integrasi kurikulum secara holistik menjadi kunci. Tauhid perlu dikaitkan dengan filsafat dan sains modern; fikih harus meluas ke ranah sosial, lintas agama, dan ekologis; sejarah Islam perlu diajarkan secara kritis-analitis agar menjadi sumber pembelajaran, bukan sekadar glorifikasi. Ketiga, metode pembelajaran harus bersifat partisipatif dan kontekstual melalui diskusi, debat argumentatif, riset sederhana, serta proyek pengabdian sosial. Keempat, literasi digital wajib menjadi bagian integral pendidikan Islam agar generasi muda mampu bersikap kritis, etis, dan produktif di ruang digital.
Transformasi juga dituntut dari para pendidik. Guru agama tidak lagi cukup berperan sebagai penjaga doktrin, melainkan harus menjadi fasilitator, pendamping, dan mitra dialog yang memahami dunia muridnya. Literasi teknologi, sensitivitas kultural, serta kemampuan mengontekstualisasikan khazanah keilmuan Islam menjadi prasyarat utama. Relasi hierarkis guru-murid perlu bergeser menuju kemitraan belajar. Lebih dari itu, pendidikan Islam harus melampaui batas institusi dengan menjalin kolaborasi bersama komunitas seni, aktivis sosial, ilmuwan, dan pelaku industri kreatif. Dengan demikian, Islam tampil sebagai sumber inspirasi bagi berbagai karya dan gerakan sosial, bukan sebagai identitas yang terpinggirkan dari arus utama kehidupan modern.
Pendidikan Islam yang relevan bagi Muslim Milenial dan Gen Z adalah pendidikan yang memberdayakan, membuka ruang dialog, dan berani berhadapan dengan realitas. Pendidikan semacam ini bertujuan melahirkan Muslim yang percaya diri tanpa arogansi, beriman tanpa fanatisme, berakar pada tradisi tanpa eksklusivisme, serta kritis tanpa sinisme. Identitas yang terbentuk adalah identitas yang kokoh karena dibangun melalui proses pencarian intelektual dan spiritual yang autentik; inklusif karena terbiasa berdialog dengan perbedaan; dan etis karena menautkan kesalehan personal dengan komitmen terhadap keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. Di tangan generasi inilah masa depan Islam dan kontribusinya bagi peradaban global dipertaruhkan. Pendidikan Islam yang transformatif, visioner, dan kontekstual harus menjadi katalis agar potensi besar tersebut dapat terwujud secara nyata.